Jumat, 05 Desember 2014

MODUL LENGKAP TENTANG HUKUM MENDEL 1 DAN 2

inongdrewryskinafatimah.blogspot.com
http/inongbloghukummendel.blogger.com

Modul Lengkap tentang hukum mendel 1 dn 2

PRINSIP HUKUM MENDEL 1 & 2

BY: RYSKINA FATIMAH SIREGAR
DOSEN PEMBIMBING : SARTINI BANGUN SPd,M.Kes
D-IV KEBIDANAN
POLTEKKES KEMENKES MEDAN 2014/2015


Daftar Isi

·    Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Relevansi
Tujuan Pembelajaran
Petunjuk
·    Kegiatan Pembelajaran
    Kata Pengantar
Indikator Pembelajaran
Latihan Dan Kunci Soal
Rangkuman
Daftar Pustaka

PENDAHULUAN
Deskripsi  Singkat, Relevansi, Tujuan Dan Petunjuk Belajar


Deskripsi Singkat
HUKUM PEWARISAN MENDEL
       Hukum Pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:
Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, dan Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel.
 Hukum Pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme, yang kita kenal dengan hukum segregasi dan hukum asortasi bebas, yang telah di jabarkan oleh  Gregor Johann Mendel . Mendel mengatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya sebagaimana bunyi hukum mendel I, dan bunyi hukum mendel II, menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain.


Relevansi

            Anda akan mempelajari teori pewarisan sifat dari Gregor Johann mendel (1822-1884)  dalam karyanya percobaan mengenai persilangan tanaman. Selain itu, anda juga dapat mengetahui apa saja percobaan mendel.
Modul ini terdiri atas 2 kegiatan belajar. Dalam kegiatan belajar 1 membahas tentang prinsip hukum mendel pertama. Sedangkan kegiatan belajar 2 membahas tentang  prinsip mendel yang kedua.

Tujuan Pembelajaran

Setelah Melaksanakan Proses Pembelajaran , Siswa Mampu :

   
                                                      
                                1.      Agar mahasiswa mengetahui latar belakang teori mendel.
                                2.      Agar mahasiswa mengetahui hukum mendel  I.
                                3.      Agar mahasiswa mengetahui hukum mendel  II.
                                4.      Agar mahasiswa mengetahui teori pewarisan sifat.
                                5.      Agar mahasiswa mengetahui percobaan mendel.


  
                                                            Petunjuk Belajar

1.      Bacalah uraian dan contoh pada kegiatan belajar secara detail. Tujuan untuk mengetahui pokok-pokok pikiran yang diuraikan dalam kegiatan belajar ini.
2.      Setelah anda mengetahui garis besar pokok-pokok pikiran dalam materi uraian ini,baca sekali lagi secara lebih cermat.Membaca secara cermat bertujuan untuk mengetahui pokok-pokok pikiran dari setiap sub pokok bahasan
3.      Untuk memudahkan anda mencari kembali hal-hal penting seperti prinsip dan konsep essensial, beri tanda pada konsep dan prinsip penting. Kemudian anda cari hubungan antara konsep tersebut,sehingga anda memiliki konsep
4.      Bila anda merasa belom yakin dalam membaca uraian pada kegiatan belajar ini,ulangi lagi membaca materi kegiatan belajar sekali lagi
5.      Pelajari cara menyelesaikan soal pada contoh-contoh soal yang diberikan pada kegiatan belajar ini,caranya adlah sebagiai berikut ini :
a.       Baca soal yang anda kerjakan
b.      Analisis materi dalam soal ini dengan menuliskan apa-apa saja yang diketahui dalam soal ini
c.       Cari permasalahan atau pertanyaan dari soal tersebut
d.      Buat kerangka rencan penyelesaian soal  tersebut  dengan menukiskan konsep yang diperlukan dan cari hubungan antarkonsep tersebut
e.       Tuliskan hasil jawaban anda pada akhir penyelesaian soal
6.      Setelah anda membaca , mempelajari dan berlatih materi uraian pada kegiatan belajar pada modul ini, coba selesaikan soal-soal pada tes formatif yang tertulis pada bagian akhir modul ini tanpa melihat kunci jawaban.


Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga modul Biologi Reproduksi dapat terselesaikan. Mengenai Prinsip Hukum Mendel 1 dan 2. Selain itu juga diharapkan bisa memberikan wawasan kepada rekan-rekan mahasiswa khususnya mahasiswa D-IV Kebidanan Poltekkes Medan.
Dalam kesempatan ini saya selaku penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Sartini Bangun SPd,M.Kes dan saya menyadari sepenuhnya bahwa isi maupun penyajian modul ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan modul ini.
Semoga modul ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Medan, 05     Desember 2014
Penulis


Ryskina Fatimah Siregar


Indikator  Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini mahasiswa  mampu :

                                                       1.      Mengetahui Latar Belakang Teori Mendel.
                                                       2.      Mengetahui Hukum Mendel  I.
                                                       3.      Mengetahui Hukum Mendel  II
                                                       4.       Mengetahui Teori Pewarisan Sifat.
                                                       5.       Mengetahui Percobaan Mendel.

Uraian Materi
Latar Belakang Teori Mendel
Genetika adalah ilmu yang mempelajari pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Gregor Johann mendel (1822-1884), seorang biarawan disebuah biara di Brunn, Austria menyilangkan kacang ercis (Pisum sativum), kemudian hasil persilangan ditanam dan di amati, mendel melakukannya selama 12 tahun.
Alasan Mendel memilih kacang ercis sebagai bahan percobaan adalah :
a.       1.  Memiliki pasangan sifat beda yang mencolok
b.       2.  Melakukan penyerbukan sendiri
c.       3.   Mudah dilakukan penyerbukan silang
d.       4.   Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan keturunan cepat
e.       5.   Mempunyai keturunan banyak
Dalam percobaannya Mendel melakukan perkawinan silang dengan menyerbukkan sendiri antara dua varietas ercis yang berbeda sebagai induk-induknya. Turunan hasil perkawinan silang ini disebut hybrid, sedangkan prosesnya hibridisasi.
Dari hasil percobaan yang diperolehnya, Mendel menyusun beberapa hipotesis, yaitu :
a.       #Setiap sifat pada organisme dikendalikan oleh satu pasang faktor keturunan, satu dari induk jantan dan satu induk betina.
b.      #Setiap pasang faktor keturunan menunjukkan bentuk alternative sesamanya, misalnya tinggi atau rendah, bulat atau keriput, kuning atau hijau. Kedua bentuk alternative ini disebut alel.
c.      #Bila pasangan faktor itu terdapat bersama-sama dalam satu tanaman, faktor dominasi akan menutup faktor resesif.
P    #Pada waktu pembentukan gamet, pasangan faktor atau masing-masing alel akan memisah secara bebas.
e.    #Individu murni mempunyai alel sama, yaitu dominan saja atau resesif saja.
.      
            Hukum Mendel I
     Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan: ‘pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan  dalam dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda).

Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:
a. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
b. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di bawah ini).
c.       Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada turunannya.


Hukum Mendel II

Hukum Mendel 2 dikenal juga sebagai Hukum Asortasi atau Hukum Berpasangan Secara Bebas. Menurut hukum ini, setiap gen/sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen/sifat lain. Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat yang lain yang bukan termasuk alelnya.

Hukum Mendel 2 ini dapat dijelaskan melalui persilangan dihibrida, yaitu persilangan dengan dua sifat beda, dengan dua alel berbeda. Misalnya, bentuk biji (bulat+keriput) dan warna biji (kuning+hijau). Pada persilangan antara tanaman biji bulat warna kuning dengan biji keriput warna hijau diperoleh keturunan biji bulat warna kuning. Karena setiap gen dapat berpasangan secara bebas maka hasil persilangan antara F1 diperoleh tanaman bulat kuning, keriput kuning, bulat hijau dan keriput hijau.

Hukum Memdel 2 ini hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan. Jika kedua gen itu letaknya berdekatan hukum ini tidak berlaku. Hukum Mendel 2 ini juga tidak berlaku untuk persilangan monohibrid.
Perhatikan analisis papan catur di bawah ini tentang persilangan buncis dengan dua sifat beda (dihibrida).
Buncis biji bulat warna kuning disilangkan dengan biji keriput warna hijau. Keturunan pertama semuanya berbiji bulat warna kuning.
Artinya, sifat bulat dominan terhadap sifat keriput dan kuning dominan terhadap warna hijau. Persilangan antar F1 mengasilkan keturunan kedua (F2) sebagai berikut: 315 tanaman bulat kuning, 101 tanaman keriput kuning, 108 tanaman bulat hijau dan 32 keriput hijau. Jika diperhatikan, perbandingan antara tanaman bulat kuning : keriput kuning : bulat hijau : keriput hijau adalah mendekati 9:3:3:1.

P : BBKK (bulat, kuning) X bbkk (keriput, hijau)
F1 : BbKk (bulat, kuning)
F1XF1 : BbKk (bulat, kuning) X BbKk (bulat, kuning)
Gamet : BK, Bk, bK, bk BK, Bk, bK, bk

Gamet-gamet ini dapat berpasangan secara bebas (Hukum Mendel 2) sehingga F2 dapat digambarkan sebagai berikut:


Gamet
BK
Bk
bK
bk
BK
BBKK
1
BBKk
2
BbKK
3
BbKk
4
Bk
BBKk
5
BBkk
6
BbKk
7
Bbkk
8
bK
BbKK
9
BbKk
10
bbKK
11
bbKk
12
bk
BbKk
13
Bbkk
14
bbKk
15
bbkk
16

Keterangan:
bulat kuning 1,2,3,4,5,7,9,10,13
keriput kuning 11,12,15
bulat hijau 6,8,14
keriput hijau 16

Tanaman bulat kuning jumlah 9.
Tanaman bulat hijau jumlah 3.
Tanaman keriput kuning jumlah 3.
Tanaman keriput hijau pada jumlah 1
.


     Jadi, perbandingan homozigot terdapat pada kotak nomor 1,6,11 dan 16 sedangkan lainnya heterozigot.
Bastar konstan atau individu baru terdapat pada kotak nomor 6 dan 11. Bastar konstan adalah keturunan homozigot yang memiliki sifat baru (berbeda dengan kedua induknya), sehingga dalam persilangan antar sesamanya tidak memisah, konstan


Teori Pewarisan Sifat

Pewarisan sifat atau yang dikenal dengan Hereditas merupakan suatu pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat disebut dengan genetika. Pewarisan sifat itu dapat ditentukan oleh kromosom dan gen. Teori-teori tentang pewarisan sifat  adalah sebagai berikut :
    
1. Teori Embryo
          Teori ini dikemukanan oleh William Harvey, 1578-1657 yang menyatakan, bahwa semua hewan berasal dari telur. Pernyataan ini diperkuat oleh Reiner de Graaf (1641-1673) peneliti pertama yang mengenal bersatunya sel sperma dengan sel telur yang akan membentuk embrio. Reiner de Graaf menyatakan bahwa ovarium pada burung sama dengan ovarium pada kelinci.

2. Teori Preformasi
          Teori ini dikemukakan oleh Jan Swammerdan, 1637-1689 yang menyatakan bahwa telur mengandung semua generasi yang akan dating sebagai miniature yang telah terbentuk sebelumnnya.
      
3.  Teori Epigenesis Embriologi
           Teori ini dikemukakan oleh C.F. Wolf, 1738-1794, yang menyatakan bahwa ada kekuatan vital dalam benih organiseme dengan kekuatan ini menyebabkan pertumbuhan embrio menurut pola perkembangan sebelumnya.

4. Teori Plasma Nutfah
            Teori ini dikemukakan oleh J. B. Lamarck, 1744-1829 yang menyatakan bahwa sifat yang terjadi karena rangsangan dari luar (lingkungan) terhadap struktur fungsi organ yang diturunkan pada generasi berikutnya.
    
5.  Teori Pengenesis
           Teori ini dikemukakan oleh C. R. Darwin, yang menyatakan bahwa setiap bagian tubuh dewasa menghasilkan benih-benih kecil yang disebut gemuia.      

 6. Teori Telegani
            Teori ini dikemukakan oleh Ernest Haeckel, menyatakan bahwa spermatozoa sebagian besar tersusun atas inti dan inti bertanggung jawab sebagai penurunan sifat.

                                              Percobaan Mendel

1.      Persilangan Dua Individu dengan Satu Sifat Beda
a.      Persilangan Monohibrid  Dominan Penuh
            Persilangan dua individu dengan satu sifat beda menurunkan sifat dominan apabila sifat keturunannya sama dengan salah satu sifat induknya. 

Perhatikan contoh persilangan berikut. Contoh: Tanaman kacang ercis berbatang tinggi disilangkan dengan kacang ercis berbatang pendek. F1 semuanya berbatang tinggi. Kemudian F1 dibiarkan melakukan penyerbukan sendiri . Hasil yang diperoleh yaitu F2 yang berbatang tinggi dan berbatang pendek dengan perbandingan 3 : 1. Persilangan ini dapat dilihat dalam bagan berikut : 
Parental 1 (P1)
Kacang ercis Batang Tinggi
>< 
Kacang ercis Batang Pendek
Genotipe
T T
>< 
t t
Fenotipe
Tinggi
Pendek
Gamet
T dan T
t dan t
Filial (F1)
T t
Fenotipe : Batang Tinggi
Parental 2 (P2)
Kacang ercis Batang Tinggi
>< 
Kacang ercis Batang Tinggi
Genotipe
T  t
T   t
Gamet
T dan t
>< 
T dan t
Kemungkinan kombinasi pada F2 adalah sebagai berikut : 
          Gamet
Gamet
T
t
T
TT (Tinggi)  .1
Tt (Tinggi)   .2
T
Tt  (Tinggi)  .3
Tt (pendek)  .4
 


    Pada persilangan ini , gen untuk faktor Tinggi (T) dominan terhadap gen untuk faktor pendek (t). Maka Individu bergenotipe Tt (no. 2 dan 3) akan memiliki fenotipe tinggi. Perbandingan fenotipe F2 pada persilangan monohibrid dominan penuh adalah :
Tinggi : Pendek = 3 : 1 . Perbandingan Genotipe nya adalah : TT : Tt : tt = 1 : 2 : 1 

b.       Persilangan Monohibrid Intermediet
            Persilangan ini tidak seperti salah satu fenotip galur murni, tetapi mempunyai fenotipe diantara kedua induknya.
Perhatikan contoh : Tanaman Antihinum majus galur Murni merah (MM) disilangkan dengan galur murni putih (mm). Dari persilangan itu diperoleh hasil F1 yang semuanya berbunga  merah muda . Jika F1 ini ditanam dan diadakan penyerbukan dengan sesamanya, maka F2 menghasilkan tanaman berbunga merah, merah muda, dan putih dengan perbandingan : 1 : 2 : 1.
               Persilangannya dapat dilihat sebagai berikut :
P1
Tanaman berbunga merah
>< 
Tanaman                       berbunga putih
Genotipe
MM
>< 
              Mm
Gamet
M dan M
          m dan m
F1
Mm
Fenotipe : berbunga merah muda
P2
Mm (merah muda)
>< 
Mm (merah muda)
Gamet
M dan m
>< 
M dan m

 Kemungkinan terjadinya kombinasi pada F2 adalah : 
       Gamet
Gamet
M
M
M
MM (Merah)        
1
Mm (merah muda)        
 2
m
Mm (merah muda)                  
3
Mm (putih)             
 4
Perbandingan Fenotipe F2 pada persilangan monohibrid intermediet adalah :
merah : merah muda : putih = 1 : 2 : 1. Perbandingan Genotipenya : MM : Mm : mm = 1 : 2 : 1 


2.               Persilangan Dua Individu dengan Dua Sifat Beda (Dihibrid)
         Persilangan dua individu dengan dua sifat beda atau lebih menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe dan genotipe tertentu. Mendel dalam percobaannya menggunakan kacang ercis galur murni yang mempunyai biji bulat warna kuning dengan galur murni yang mempunyai biji keriput warna hijau. Karena bulat dan kuning dominan terhadap keriput dan hijau, maka F1 seluruhnya berupa kacang ercis berbiji bulat dan warna biji kuning. Biji-biji F1 ini kemudian ditanam kembali dan dilakukan penyerbukan sesamanya untuk memperoleh F2. Keturunan kedua F2 yang diperoleh adalah sebagai berikut. Persilangan tersebut adalah persilangan dua individu dengan dua sifat beda yaitu bentuk biji dan warna biji.
B=bulat, dominan terhadap keriput b=keriput,
K=kuning, dominan terhadap hijau k= hijau 
Perhatikan bagan persilangan  dua individu dengan dua sifat beda (dihibrid) di bawah
P1
Kacang ercis berbiji bulat warna kuning
>< 
Kacang ercis berbiji keriput warna hijau
Genotipe
BBKK
>< 
Bbkk
Gamet
BK dan BK
>< 
bk dan bk
F1
BbKk
Fenotipe : berbiji bulat warna kuning
P2
BbKk
>< 
BbKk
Gamet
BK,B k,bK,bk
>< 
BK,Bk,bK,bk

Kemungkinan terjadinya kombinasi pada F2 adalah Sbb : 
F2 :
                Gamet Gamet
BK
Bk
bK
Bk
BK
BBKK
1
BBKk
2
BbKK
3
BbKk
4
Bk
BBKk
5
BBkk
6
BbKk
7
Bbkk
8
bK
BbKK
9
BbKk
10
bbKK
11
bbKk
12
Bk
BbKk
13
Bbkk
14
bbKk
15
Bbkk
16


Individu yang mengandung B memiliki biji bulat dan individu yang mengandung K memiliki biji warna kuning, Fenotipe pada F2 adalah :
1.      bulat – kuning    = nomor : 1 , 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13
2.      bulat – hijau       = nomor : 6, 18, 14
3.      keripit – kuing   = nomor : 11, 12, 15
4.      keriput – hijau    = nomor : 16
Perbandingan Fenotipe F2 adalah :
bulat – kuning : bulat – hijau : keriput – kuning : keriput – hijau = 9 : 3 : 3 : 1

Kemungkinan macam genotipe dan fenotipe pada dihibrid F2 : 
Kemungkinan ke-
Kotak nomor
Genotipe
Fenotipe
1
1
BBKK
Bulat kuning
2
2, 5
BBKk
Bulat kuning
3
3, 9
BbKK
Bulat kuning
4
4,7, 10, 13
BbKk
Bulat kuning
5
6
BBkk
Bulat hijau
6
8, 14
Bbkk
Bulat hijau
7
11
bbKK
Keriput kuning
8
12, 15
bbKk
Keriput kuning
9
16
bbkk
Keriput hijau
Perbandingan Genotipe nya :
BBKK : BBKk : BbKK : BbKk : BBkk : Bbkk : bbKK : bbKk : bbkk
1 : 2 : 2 : 4 : 1 : 2 : 1 : 2 :1

 3.               Persilangan dua Individu dengan Tiga Sifat Beda (Trihibrid)
Misalnya persilangan kacang ercis dengan tiga sifat beda yaitu :Batang tinggi, biji bulat dan biji warna kuning, dengan batang pendek, biji keriput, warna biji hijau. Keturunan F1 yang dihasilkan adalah : Bagan persilangan Trihibrid 
P1
TTKKBB
                    ><
Ttkkbb
Fenotipe
Tinggi,kuning,bulat
                    ><
Pendek,keriput,hijau
Genotipe
TKB
                    ><
Tkb
F1
TtKkBb
Fenotipe : Tinggi,kuning,bulat
P2
     TtKkBb
                    ><
TtKkBb
Gamet
TKB,TKb,TkB,Tkb,tKB,tKb, tkB,tkb
Hubungan sifat beda dan jumlah kemungkinan fenotipe dan genotipe pada F2 
Jumlah Sifat Beda
Jumlah Macam Gamet
Jumlah Macam Genotipe F2
Jumlah Macam Fenotipe F2
Perbandingan Fenotipe F2
Jumlah Individu F2
1
21 = 2
3
2
3 : 1
4
2
22 = 4
9
4
9 : 3 : 3 : 1
16
3
23 = 8
27
8
27:9:9:9:3:3:3:1
64
N
2n
3n
2n
4n


Soal Dan Kunci Jawaban

1.      Alasan Mendel memilih kacang ercis sebagai bahan percobaan berikut ini, kecuali?
              
a.       Memiliki pasangan sifat beda yang mencolok
b.      Melakukan penyerbukan sendiri
c.       Mudah dilakukan penyerbukan silang
d.      Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan keturunan cepat     
e.       Mempunyai keturunan lebih sedikit

2.      Hukum Mendel I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan: ‘pada pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan  dalam dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan …
a.       Monohibrid
b.      Dihibrid
c.       Trihibrid
d.      Semua benar
e.       (a dan c ) benar

3.      Teori ini dikemukanan oleh William Harvey, 1578-1657 yang menyatakan, bahwa semua hewan berasal dari telur . Teori tersebut adalah …
a.       Teori Epigenesis Embriologi
b.      Teori Plasma Nutfah
c.       Teori Telegani
d.       Teori Embryo
e.       Teori Preformasi
4.       Apa yang dimaksud dengan persilangan Monohibrid  Dominan penuh?
a.     Persilangan satu individu dengan dua sifat beda menurunkan sifat dominan apabila sifat keturunannya sama dengan salah satu sifat induknya. 
b.     Persilangan dua individu dengan satu sifat beda menurunkan sifat dominan apabila sifat keturunannya sama dengan salah satu sifat induknya. 
c.      Persilangan ini tidak seperti salah satu fenotip galur murni, tetapi mempunyai fenotipe diantara kedua induknya.
d.     Persilangan dua individu dengan dua sifat beda atau lebih menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe dan genotipe tertentu.
e.      Persilangan tiga individu dengan dua sifat beda atau lebih menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe dan genotipe tertentu.

        5. Pernikahan antra wanita dan laki – laki yang keduanya normal menghasilkan seorand anak laki – laki yang kretinisme dan albino. Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa :

           a. Gen kretinisme dan albino berasal dari ibu
           b. Gen kretinisme berasal dari ayah dan ibunya, gen albino berasal dari ibu
           c. Gen kretinisme berasal dari ayah dan ibunya, sedangkan gen albino berasal dari ayahnya
           d. Gen kretinisme dan albino berasal dari kedua orang tuanya yang bertindak sebagai carier
           e. Gen kretinisme dan albino berasal dari ayah
      
       6. Gen-gen yang terapaut kromosom seks X dan baersifat resesif antara lain…
           a. Buta warna
           b. Buta warna dan Haemofilia
           c. Muscular distropy dan haemofilia
           d. Ichtyosis dan Buta warna
           e. Muscular distropy dan Ichtyosis

       7. Gen letal adalah yang dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian. Pernyataan yang tepat berhubungan dengan gen letal dominan…
            a. Terpaut padakromosom kelamin
            b. Menyebabkan kematian postnatal
            c. Hanya diperoleh dari ayahnya
            d. Genotipe geterozigot berfenotip cacat
            e. Genotipe homozigot berfenotip normal

       8. Dalam tubuh dan sel kelamin terdapatautosom dan kromosom seks. Pada ovum manusia terdapat…

            a. 22 autosom + X
            b. 22 autosom + Y
            c. 22 autosom + XX
            d. 22 autosom + YY
            e. 44 autosom + XX

9. Disilangkan gandum hitam (HhKk) dengan gandum kuning (hhKk). Berapa kemungkinan dihasilkan gandum berfenotif putih?

             a). 0 %
             b. 12,5 %
             c. 37,5 %
             d. 25 %
             e. 50 %          

10. Gen letal adalah yang dalam keadaan homozigot menyebabkan kematian. Pernyataan yang tepat berhubungan dengan gen letal dominan…

       a. Terpaut padakromosom kelamin
       b. Menyebabkan kematian postnatal
       c. Hanya diperoleh dari ayahnya
       d. Genotipe geterozigot berfenotip cacat
       e. Genotipe homozigot berfenotip normal

Kunci Jawaban
     1.E
     2.A
     3.D
     4.B
     5.D
     6.B
     7.E
     8.A
     9.A
     10.E

Rangkuman

Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya 'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian:

1.      Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Pertama Mendel, Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukangamet (sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya.

2.      Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel. Menurut hukum ini, setiap gen/sifat dapat berpasangan secara bebas dengan gen/sifat lain. Meskipun demikian, gen untuk satu sifat tidak berpengaruh pada gen untuk sifat yang lain yang bukan termasuk alelnya.
         Gregor Johann Mendel, inilah tokoh yang lahir di Hyncice, Austria, yang berperan penting dalam ilmu Biologi, khususnya tentang hereditas dan telah dikenal diseluruh dunia dengan Hukum Mendel nya.
  Hukum Mendel merupakan hukum hereditas yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip penurunan sifat pada organisme. Sebelum menjadi suatu hukum, banyak ahli biologi yang belum mengakui pendapat atau teori mendel tentang hereditas.

Daftar Pustaka

3 komentar:

  1. Iya sama.sama terimakasih juga sudah mampir dan mau comment diblog yg belum sempurna ini. Semoga bermanfaat 😊

    BalasHapus
  2. Penyimpangan dari hasil mendel bagamana.

    BalasHapus